Index Price || LOCO GOLD (Open Price 1942.25 | High 1947.10 | Low 1941.30 | Close 1939.70) || HANSENG (Open Price 19227.84 | High 19272.58 | Low 19087.66 | Close 19252.00 || NIKKEI (Open Price 31830.00 | High 31985.00 | Low 31560.00 | Close 31850.00 || Index Price 11 Oktober 2013|| LOCO GOLD (Open Price 1288.07 | High 1288.80 | Low 1278.80 | Close 1282.80) || HANSENG (Open Price 23,022 | High 23,049 | Low 22,982 | Close 23020/40 || NIKKEI (Open Price 14,290 | High 14,365 | Low 14,270 | Close 14340/60 ||

Rabu, 18 Maret 2015

Dana Asing Keluar, Pasar Uang Domestik Melambat

http://financeroll.co.id/wp-content/uploads/ihsg-dan-rupiah433.jpgRifan Financindo Berjangka – Pada perdagangan  Selasa (17/3) nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore, bergerak menguat sebesar 45 poin menjadi Rp 13.185 dibandingkan sebelumnya di posisi Rp 13.230 per dolar AS, menyusul dipertahankan BI Rate di level 7,5%. 
Tingkat suku bunga Bank Indonesia (BI rate) yang dipertahankan di level 7,5% menjadi salah satu sentimen positif bagi mata uang rupiah karena dapat menahan investor jangka pendek keluar dari Indonesia.  Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir stagnan setelah sempat menguat di awal perdagangan. Aksi jual bersih investor asing membuat IHSG hanya naik tipis 3 poin.  Pada awal perdagangan   IHSG menguat 17,56 poin atau 0,3% ke level 5.452,83.
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI) pada Selasa (17/3) memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 7,5%, dengan suku bunga Deposit Facility 5,5% dan Lending Facility pada level 8%.  Dolar AS yang konsolidasi menjelang rapat moneter Bank Sentral AS (the Fed), dijadikan momentum bagi pelaku pasar uang untuk melakukan aksi ambil untung.  Penguatan rupiah diperkirakan jangka pendek karena potensi dolar AS kembali menguat masih terbuka jika sinyal the Fed menunjukkan kenaikan suku bunga AS (Fed fund rate) dilakukan lebih cepat meski belum ada kepastian waktu.  Di tengah sentimen yang belum pasti itu akan mendorong investor pasar uang akan kembali memegang dolar AS untuk mengurangi risiko investasi.
Sedangkan   neraca perdagangan Februari 2015 yang mencatatkan surplus juga menjadi salah satu faktor rupiah berada dalam area positif.   Tercatat, neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2015 kembali mencatat surplus sebesar USD  0,74 miliar, setara Rp 9,62 triliun (kurs Rp 13.000), relatif stabil dibanding surplus Januari 2015 sebesar USD 0,75 miliar atau Rp 9,75 triliun.  Sebaliknya pada kurs tengah BI mata uang lokal tersebut bergerak melemah menjadi Rp 13.209 dibandingkan hari sebelumnya, Senin (16/3) di posisi Rp 13.237 per dolar AS.
Dari bursa saham,  indeks   sempat naik cukup tinggi di awal perdagangan, sampai ke level 5.464,016. Indeks bertahan positif meski tekanan jual asing masih terus berlanjut.  Menutup  perdagangan Sesi I, IHSG naik tipis 1,559 poin (0,03%) ke level 5.436,830. Aksi jual investor asing menghambat laju IHSG.  Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di 7,5%. Langkah bank sentral ini sudah diprediksi pelaku pasar sebelumnya.
Pada akhir perdagangan   IHSG naik tipis 3,882 poin (0,07%) ke level 5.439,153. Sementara Indeks  unggulan LQ45 berkurang 0,531 poin (0,06%) ke level 944,989.  Beberapa saham konsumer yang kemarin naik tinggi sekarang jadi sasaran aksi jual. Saham-saham unggulan paling banyak kena aksi ambil untung.  Dana asing masih lanjut mengalir ke luar lantai bursa. Transaksi investor asing hingga sore hari ini terpantau melakukan penjualan bersih (foreign net sell) senilai Rp 682,992 miliar di seluruh pasar.
Adapun  situasi dan kondisi bursa regional sore ini:  Indeks Nikkei 225 menguat 190,94 poin (0,99%) ke level 19.437,00, Indeks Hang Seng turun 48,06 poin (0,20%) ke level 23.901,49, Indeks Komposit Shanghai melonjak 53,54 poin (1,55%) ke level 3.502,85, dan  Indeks Straits Times berkurang 6,23 poin (0,18%) ke level 3.369,81.
 
Sumber : FInanceroll

Tidak ada komentar :

Posting Komentar