Index Price || LOCO GOLD (Open Price 1942.25 | High 1947.10 | Low 1941.30 | Close 1939.70) || HANSENG (Open Price 19227.84 | High 19272.58 | Low 19087.66 | Close 19252.00 || NIKKEI (Open Price 31830.00 | High 31985.00 | Low 31560.00 | Close 31850.00 || Index Price 11 Oktober 2013|| LOCO GOLD (Open Price 1288.07 | High 1288.80 | Low 1278.80 | Close 1282.80) || HANSENG (Open Price 23,022 | High 23,049 | Low 22,982 | Close 23020/40 || NIKKEI (Open Price 14,290 | High 14,365 | Low 14,270 | Close 14340/60 ||

Kamis, 22 Mei 2014

Bank Mandiri Getol Cari Target Akuisisi


JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Mandiri terus mematangkan rencananya untuk unjuk gigi di kancah perbankan ASEAN. Salah satu caranya adalah, bank berlogo pita emas ini masih getol mencari objek akuisisi berupa lembaga keuangan.

Di paruh kedua tahun ini, Bank Mandiri fokus mencari target akuisisi berupa bank yang bergerak di bisnis ritel. "Jika bank, kami cari yang bergerak di ritel," tutur Pahala N. Mansuri, Direktur Keuangan dan Strategi Bank Mandiri, Rabu (21/5/2014). Namun, bank plat merah ini tidak menutup kemungkinan mengakuisisi perusahaan non-bank.

Mandiri tengah merampungkan pendirian perusahaan multifinance. Perusahaan berbentuk patungan (joint venture) itu akan menggarap pembiayaan kendaraan roda dua di pasar luar Jawa

Sembari mencari target akuisisi, Mandiri mematangkan rencana pendanaan akuisisinya. Kebutuhan dana untuk pertumbuhan anorganik itu Rp 12 triliun. Mandiri akan menggunakan kas internal untuk membiayai sebagian dari total kebutuhan dana itu.


Kebutuhan dana tersebut termasuk untuk membiayai akuisisi 80 persen saham Inhealth. Awal bulan ini, Mandiri telah merampungkan transaksi pembelian 60 persen saham perusahaan asuransi tersebut yang nilainya berkisar Rp 1 triliun. "Diperkirakan akan memakan biaya Rp 1,2 triliun-Rp 1,3 triliun," ujar Pahala.

Selain kas internal, Mandiri akan memanfaatkan berbagai sumber pendanaan. Saat ini Mandiri masih mematangkan opsi sumber pendanaan yang dimaksud. Yang pasti, Pahala menegaskan, penerbitan surat utang atau obligasi tak menjadi pilihan dalam meraup dana segar.

"Pokoknya, dalam bentuk apapun, tapi tidak termasuk obligasi," imbuhnya. Padahal, di awal tahun ini, Mandiri pernah berencana menerbitkan Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK EBA) sebesar Rp 500 miliar - Rp 700 miliar. (Issa Almawadi/Nina Dwiantika)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar