Index Price || LOCO GOLD (Open Price 1942.25 | High 1947.10 | Low 1941.30 | Close 1939.70) || HANSENG (Open Price 19227.84 | High 19272.58 | Low 19087.66 | Close 19252.00 || NIKKEI (Open Price 31830.00 | High 31985.00 | Low 31560.00 | Close 31850.00 || Index Price 11 Oktober 2013|| LOCO GOLD (Open Price 1288.07 | High 1288.80 | Low 1278.80 | Close 1282.80) || HANSENG (Open Price 23,022 | High 23,049 | Low 22,982 | Close 23020/40 || NIKKEI (Open Price 14,290 | High 14,365 | Low 14,270 | Close 14340/60 ||

Jumat, 09 Januari 2015

Bank Dunia Sebut Jatuhnya Harga Minyak Jadi Kesempatan untuk Mereformasi Subsidi

//images.detik.com/content/2015/01/09/1034/minyakk.jpeg Rifan Financindo Berjangka-Harga minyak dunia masih 'betah' berada di level rendah. Ini menjadi kesempatan bagi negara importir minyak (seperti Indonesia) untuk melakukan perubahan di bidang subsidi, terutama Bahan Bakar Minyak (BBM).


Mengutip data perdagangan Reuters, harga minyak jenis Light Crude untuk pengiriman Januari 2015 berada di posisi US$ 49,12/barel. Sementara harga minyak Brent adalah US$ 51,14/barel.

Bank Dunia dalam siaran tertulisnya, Jumat (9/1/2015), menyebutkan bahwa harga minyak di level rendah diperkirakan bertahan sampai 2015. Untuk negara-negara pengimpor minyak, melemahnya harga minyak bisa mengurangi tekanan inflasi dan beban anggaran negara.

"Untuk para pembuat kebijakan di negara-negara berkembang pengimpor minyak, jatuhnya harga minyak memberi kesempatan untuk mengambil kebijakan fiskal dan melakukan reformasi struktural," kata Ayhan Kose, Direktur Prospek Pembangunan di Bank Dunia.

Indonesia sendiri merupakan salah satu negara yang saat ini menjadi pengimpor minyak. Produksi minyak nasional saat ini berada di kisaran 800.000/hari, sementara konsumsinya mencapai lebih dari 1 juta barel/hari.

Pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) sudah memanfaatkan penurunan harga minyak untuk melakukan reformasi subsidi. Mulai 1 Januari 2015, pemerintah sudah mencabut subsidi untuk Premium sehingga harganya mengikuti mekanisme pasar. Sementara Solar diberikan subsidi tetap Rp 1.000/liter dan sisanya menyesuaikan dengan harga pasar atau keekonomiannya.

Meski kini dikaitkan dengan mekanisme pasar, tetapi harga BBM justru turun. Bahkan harga BBM diyakini akan turun lagi pada Februari 2015. Ini tidak lepas dari penurunan harga minyak dunia.

Namun, Bank Dunia mengingatkan bahwa penurunan harga minyak membawa efek negatif kepada negara-negara yang sangat mengandalkan penjualan minyak untuk mendorong perekonomiannya.

"Bagi negara pengekspor, harga minyak yang rendah mengingatkan akan kelemahan ekonomi suatu negara yang terlalu bertumpu kepada 1 sektor," tegas Kose.

Sumber : Detik

Tidak ada komentar :

Posting Komentar